Kamis, 04 April 2019

PROPERTI |INTERIOR

Menciptakan Ruang Duduk yang Nyaman
By Kevin
MASYARAKAT Indonesia akrab dengan acara kumpul-kumpul, baik bersama keluarga maupun teman. Tidak hanya bercengkerama di sofa atau kursi, tetapi juga bisa dilakukan di atas bale-bale atau bersila di lantai. Oleh karena itu, kehadiran ruang duduk bisa mempertegas fungsi rumah sebagai area bersosialisasi anggot keluarga.
Ruang duduk sebaiknya memiliki penataan furnitur, sirkulasi, dan layout antar-ruangan yang apik dan efisien. Bagi rumah dengan lahan terbatas, ruang duduk berperan multifungsi. Ruang ini bisa sebagai tempat makan, menonton televise, bermain, bahkan belajar anak.
Untuk menyiasatinya, kini hunian dengna lahan sempit bisa ditampilkan dengan konsep modern minimalis yakni keterbukaan antar ruang. Susunlah layout ruang secara terbuka dan efisien.
Tidak lupa, karena umumnya ruang ini terletak di bagian tengah rumah. Anda patut memaksimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Sirkulasi udara bisa disiasati dengan kipas angin di langit-langit. Bukaan seperit jendela lebar yang mengelilingi ruang bsia berfungsi sebagai media pencahayaan alami. Skylight pun menarik ditampilkna di area ini.
Selanjutnya, mari rencanakan penataan isi ruang. Amati kebiasaan dari aktivitas sosialisasi penghuni rumah dengan kondisi ruang. Rancanglah sofa atau kursi minimal sesuai jumlah penghuni rumah. Anda bisa memilih rancangan tempat duduk dan meja rendah yang nyaman.
Di samping itu, orientasi pandangan menjadi aspek penting saat mendesain raung keluarga. Tentukan focus pandangan kea rah pemandangan luar, ke arah lain, atau kea rah televise. Perhatikan penempatan televise dan peralatan tata suara yang benar, jangan sampai posisi televise lebih rendah daripada tinggi tempat duduk.
Sebagai sentuhan dekoratif, sematkan lukisan, foto atau pajangan kesukaan anda di ruang ini. Pasalnya, ruang keluarga bisa menjadi cermin ekspresi si tuan rumah.
Sebagai pemanis, and bisa mengolaboroasikan warna dinding, fitur, dan pernak-pernik lainnya serta memainkan warna pencahayaan dari tata lampu. Ruang keluarga pun siap menjadi ruang duduk yang nyaman.

Minggu, 03 Maret 2019

INFO KLASIKA |PROPERTI | RUMAH

Rumah Alga, Peluang Energi Hijau
By Kevin
Penggunaan energy di dalam bangunan tercatat sebagai salah satu factor yang membuat laju pemanasan global semakin cepat. Menyadari hal tersebut, Splitterwerk Architects dari Jerman menggagas bangunan yang bisa menghasilkan energy dengan mandiri. Mereka memanfaatkan ganggang.
RUMAH, dengan energi matahari dan angin barangkali sudah cukup marak. Namun, Splitterwerk Architects mencoba menggunakan sumber energi terbarukan lain yang mungkin nantinya menjadi amat potensial, ganggang, untuk menyuplai energy ke seluruh bangunan. Bangunan yang terletak di Hamburg, Jermain, itu dinamai BIQ House.
Dinding BIQ House didesain secara khusus sehingga ganggang hijau sebagai reactor biologis bisa bertumbuh cepat di sana. Ganggang hijau mikro dibudidayakan di dinding rumah untuk menghasilkan bahan bakar. Dinding rumah tersebut terdiri atas 129 segmen kaca tempat menaruh ganggang, seperti akuarium. Untuk bisa tumbuh di dinding kaca yagn kira-kira seukuran pintu tersebut, ganggang membutuhkan CO₂ yang diperoleh dari gas buang dari sebuah pemanas gas yang berada di ruangan pusat pengendalian energi.
Pembudidayaan ganggang ini sebenarnya tidak sederhana. Karena di habitat asalnya alga hidup di kedalaman air tertentu, tumbuhan ini tidak tahan paparan langsung sinar matahari. Oleh karena itu, dinding kaca harus terus dipompa dan diaduk sehingga paparan sinar matahari hanya sebentar dan ganggang tidak mati kepanasan.
Dinding kaca di sekeliling rumah bisa berfungsi sebagai modul panel surya. Matahari memanaskan air di dalamnya. Instalasi penukar panas  menarik energi dan menggunakannya untuk memanaskan air di gedung. Air panas ini pun bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan. Kelak, sel surya tipis akan diintegrasikan ke dalam elemen dinding kaca tersebut. Rumah ganggang pun nantinya tidak hanya memproduksi energi panas, tetapi juga listrik yang ramah lingkungan.
Selain energi, rumah ganggang menghasilkan material berharga, minyak alga. Minyak  alga ini menjadi incaran perusahaan farmasi dan kosmetika. Harga per kilonya bisa mencapai 60 euro. Hasil ekstraksi lainnya bisa digunakan sebagai suplemen makanan dan pakan ternak. Sampahnya bisa diolah untuk biogas.
Meski merupakan akar terobosan di bidang enegi dan properti, konsep rumah alga belum sepenuhnya matang. Di BIQ house, peneliti akan lebih lanjut mencari tahu berapa banyak produksi panas dan biomassa yang bisa dihasilkan dari instalasi tersebut.

Sabtu, 02 Februari 2019

INFO KLASIKA |PROPERTI

CERMAT Memilih Plafon untuk Rumah
By Kevin
Plafon secara definisi merupakan daeah pembatas antara atap dan ruangan di bawahnya. Ketinggiannya berkisar antara 2,80-3,80 meter. Fungsi utama plafon adalah menjaga kondisi suhu di dalam ruangan akbiat sinar matahari yang menyinari atap rumah dan melindungi ruangan rumah dari rembesan air yagn masuk dari atas atap.
KINI, fungsi plafon telah mengalami perluasan persepsi. Tak hanya mengakomodasi fungsi utama, tetapi juga berbagai jenis dan desain plafon dirancang sedemikian rupa sebagai pemberi kesan estetika pada ruangan. Oleh karena itu, ada baiknya sebelum memilih model dan bahan dasar plafon rumah yang aka ndipakai, anda pelajari dulu keunggulan dan kelemahan dari tiap jenis plafon.
Plafon tripleks
Plafon berbahan tripleks merupakan jenis penutup plafon yang sering dipakai. Ukuran tripleks di pasaran adalah 122 sentimeter x 244  centimeter dengan ketebalan 3 milimeter, 4 milimeter, dan 6 milimeter. Keunggulan jenis plafon tripleks proses pengerjaannya lebih mudah dan dapat dilakukan oleh tukang kayu sehingga anda tidak kesulitan dalam pengerjaannya.
Material tripleks mudah didapatkan di pasaran dengan harga yang relatif murah dan bahan yang ringan memudahkan pengguna dalam perbaikan apabila terjadi kerusakan untuk menggantinya. Kelemahan bahan tripleks tidak tahan terhadap api sehingga mudah terbakar dan apabila sering terkena air atau rembesan akan mudah rusak.
Plafon eternit atau asbes
Di pasaran, ukuran plafon eternit adalah 1 meter x 1 meter dan 0,5 meter x 1 meter. Keunggulannya, selain mudah didapat di padsaran, proses pengerjaan pun mduah sehingga tidak menemui kendala. Bahanya yang ringan memduahkan pengguna untuk dapat mengganti apabila terjadi kerusakan.
Kelemahan bahan dari eternit atau asbes tidak tahan terhadap guncangan dan benturan sehingga harus berhati-hati dalam proses pemasangan plafon supaya tidak patah atau retak.
Plafon gypsum
Plafon gypsum salah satu jenis plafon yang sudah banyak digunakan pula untuk penutup plafon. Ukuran untuk plafon adalah 122 sentimeter x 244 sentimeter. Pada saat terpasang, keunggulan plafon gypsum memiliki permukaan yang terlihat tanpa sambungan sehingga banyak diminati masyarakat. Proses pengerjaannya pun lebih cepat, mduah diperoleh, serta diperbaiki dan diganti. Kelemahannya, plafon ini tidak tahan terhadap air sehingga mudah rusah ketika terkena air atau rembesan air. Tidak semua tukang dapat mengerjakannya sehingga membutuhkan keahlian khusus.

Selasa, 01 Januari 2019

INFO KLASIKA |PROPERTI |ARSITEKTUR UNIK

Museum Berbentuk amuba di Austria

By Kevin

Setidaknya terdapat empat manfaat museum yaitu sebagai sarana edukasi, inovasi, rekreasi, dan imajinasi.

OLEH karena itu, sduah selayaknya museum didirikan dengan bentuk yang menarik sehingga semua usia akan tertarik untuk pergi ke museum.

Di Austria, misalnya, pada 2003 telah didirikan sebuah museum dengan arsitektur modern. Konsep arsitektur bergaya Blobitecture ini merespresentasikan sebuah bangunan organic yang memperlihatkan bentuk bangunan seperti amuba. Bangunan organic sendiri merupakan illmu yang mempelajari perencanaan dan perancangan dengna mengambil sumber dari alam yang berupa makhluk hidup atau yang berhubungan dengan makhluk hidup, sebagai poko dari bentuk dan fungsi bangunan.

Museum berbentuk amuba tersebut bernama Kunsthaus Graz. Berlokasi di West Bank, Sungai Mur, Graz, museum ini dijadikan tempat untuk menggelar pertunjukkan seni kontemporer, new media displays, desain, internet art, film, fotografi, dan tempat terselenggaranya sebuah acara. Karena bentuk yang unik dan fungsinya tersebut, museum ini mampu menjadi landmark kota Graz.

Graz sendiri telah dikenal sejak lama sebagai “kota Pelajar” dan merupakan kota tua yang mampu menjadi salah satu pusat kota yang paling terjaga dengan baik. Pada 1999, kota ini dimasukkan ke dalam daftar situs warisan dunia Unesco.

Dengan luas 2.508 meter persegi, museum ini diselimuti ribuan plastic akrilik semitransparan yang akhirnya membentuk Bix Façade, gabungan dari kata big dan pixel. Dari luar museum ini tampak diselimuti ole hkulit yang mengilat. Ternyata, ada kesengajaan membentuk “kulit” bangunan seperti ini, disebut dengna sel surya atau sel photovoltaic.

Sel tersebut merupakan sebuah alat semikonduktor yagn terdiri dari sebuah wilayah besar diode p-n junction, di mana, dalam hadirnya cahaya matahari mampu menciptakan energy listrik yang berguna. Dan ketika malam tiba, “kulit” museum ini akan bercahaya menghasilkan tontonan yang menakjubkan.

Karena bentuknya yang unik seperti amuba dan sering kali dianggap sebagai alien, Graz Kunsthaus juga disebut dengan “Friendly alien”. Kenapa friendly? Tempat ini akhirnya mampu menjadi yang ramah untuk berkreasi dan mengapresiasi seni kontemporer Austria yang nantiny diharapkan dapat dilestarikan para generasi penerusnya.


Minggu, 09 September 2018

PROPERTI| HUNIAN

Gerakan Merampingkan Rumah
By Kevin
Sementara orang-orang berupaya menabung dan memburu rumah yang besar demi prestise dan kenyamanan, sebagian lagi mulai bertanya, “Apakah benar kita membutuhkan ruang yang begitu luas untuk berhuni?” Dari pertanyaan ini, gerakan membuat rumah yang lebih kecil pun lahir.
GERAKAN rumah kecil atau tiny house movement adalah sebutan populer gerakan arsitektur sekaligus social untuk mendorong orang tinggal di rumah yag lebih kecil. Di AS, satu rumah memiliki luas rata-rat 165 meter persegi pada 1978 sampai 230 meter persegi pada 2007, meskipun jumlah orang tinggal di dalamnya semakin menyusut. Gerakan rumah kecil ingin mengembalikan rumah kebentuknya yang lebih sederhana, secukupnya saja, dengna luas kira-kira 70 meter persegi.
Orang-orang bergabung dalam gerakan ini dengan banyak alasan, tetapi yang paling sering disebut adalah perkara financial, lingkungan, dan social. Orang Amerika mendedikasikan sekitar sepertiga atau setengah pendapatan mereka untuk membangun rumah. Jika dikalkulasi, ini setara dengan gaji 15 tahun bekerja. Alternative mengatasi persoalan ini, tinggal di dalam rumah yang lebih kecil.
Menggunakan lebih sedikit lahan untuk mendirikan rumah juga lebih ramah lingkungan. Material yang anda pakai lebih sedikit dan tanah yang lain bisa dimanfaatkan semisal untuk daerah hijau atau resepan. Dari sisi social, memiliki rumah lebih kecil berarti juga menyediakan ruang untuk hunian bagi orang lain. Ktia tahu bahwa jumlah manusia bertambah banyak sementara lahan di bumi terus menyusut. Lahan yang semakin sesak harus bisa pula menyediakan ruang untuk beberapa generasi sampai berates tahun ke depan.
AS hanyalah contoh kecil dari gambaran yang lebih besar. Hampir di belahan dunia mana pun, orang-orang masih menyimpan mimpi untuk memiliki rumah yang lebih besar. Begitu pula di perkotaan yang pada seperti Jakarta. Geraka nuntuk membangun rumah lebih kompak pun muncul meskipun gaungnya tak sebesar yang ada di AS.
Dalam salah satu seminarnya, Atap Jakarta, organisasi hasil kerja sama Indonesia-Jepang yang emncari solusi hunian masa depan di perkotaan, membahas rumah kompak. Ahmad Djuhara, salah satu arsitek penggagas Atap Jakarta, mengatakan, masyarakat kita masih terobsesi pada rumah yang besar. Banyak ruangan dibuat dengan tujuan yang berbeda-beda alih-alih menjadikannya multifungsi. Akibatnya, bangunan tidak efisien dan kota makin padat.
Membangun rumah sesuai kebutuhan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan dan social. Kita pun bisa menghemat pengeluaran dan mengalihkannya untuk memenuhi kebutuhan yang lain.