Kamis, 07 Juli 2016

Senin, 06 Juni 2016

Senin, 04 April 2016

TEROPONG | WISATA ALAM

Meniti Hutan Cemara Alishan
“Kabut dingin merendah, perlahan datang menyapa, semak-semak tanah basah/
Langkah kaki seiring pandangan hijau terhampar di tepi hutan cemara…”
Lirik tembang lawasn milik Katon Bagaskara ini serasa pas dilantunkan saat kaki mulai menginjak kawasan Alishan National Scenic Area di Chiayai, Taiwan, Awal Desember lalu, suhu udara sejuk, sekitar 13 derajat celsius. Jalan kaki menyusuri jalan di bawah kerimbunan hutan cemara dan pinus pun tak terasa melelahkan.
Pohon Tiga Generasi merupakan salah satu pemandangan menarik di Alishan National Recreation Area, Chiayi, Taiwan.
[sumber : KOMPAS, RABU, 16 DESEMBER 2015| Oleh : FRANSISCA ROMANA NINIK]ALISHAN atau Gunung Ali terdiri atas deretan pegunungan dengan ketinggian hingga 2.500 meter di atas permukaan laut dengan luas total 415 kilometer persegi. Kawasan ini merupakan resor yang terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan. Alishan National Scenic Area Visitor Center mencatat sekitar 3 juta wisatawan mengunjungi Alishan setiap tahun. Mereka menikmati kesejukan dan ketenangan hutan, matahari terbit atau terbenam, lautan awan, serta pemandangan indah lainnya.
Begitu cantiknya alam Alishan sampai-sampai dia digambarkan melalui lagu rakyat yang populer berjudul ”Alishan de gu niang” atau ”Gadis Alishan”. Dalam perjalanan menuju lokasi, Jeffrey, pemandu kami, menyanyikan dua bait lagunya. ”Gunung tinggi yang hijau, air sungai yang biru. Gadis Gunung Ali secantik air, pemuda Gunung Ali sekuat gunung,” ujarnya.
Setelah sekitar dua jam menempuh jalan berkelok-kelok dan terus menanjak dari kota Chiayi, sampailah kami di Stasiun Forest Railway Alishan. Dari stasiun, turis bisa naik kereta yang beroperasi di jalur yang dibangun sejak zaman penjajahan Jepang tahun 1940-an. Kami beruntung bisa naik kereta yang seluruhnya terbuat dari kayu pinus yang hanya dioperasikan setiap Rabu tersebut.
Dengan ongkos 50 dollar Taiwan (sekitar Rp 21.000) sekali jalan, pengunjung bisa menikmati perjalanan selama enam menit menuju stasiun terdekat dengan jalur pendakian (hiking trail), Stasiun Zhaoping. Kereta berjalan lambat. Di dalam kereta masih tercium segar kayu pinus, sementara di kanan-kiri menjulang pohon cemara dan pinus setinggi puluhan meter.
Tersembunyi
Perjalanan singkat itu membawa gambaran masa lalu saat pohon-pohon cemara dan pinus tersebut ditebangi lalu diangkut ke kota Chiayi menggunakan kereta sebelum dikirimkan ke Jepang. ”Kami takjub karena Jepang bisa menemukan tempat ini, padahal selama itu tersembunyi. Mereka menyebut kayu-kayu ini hinoki dan membawanya ke Jepang. Penebangan di hutan ini sudah dihentikan sejak tahun 1970-an dan kawasan ini dilindungi pemerintah, dijadikan taman nasional,” tutur Wu Chia-hsin, petugas dari Alishan National Scenic Area Visitor Center.
Turun dari kereta kayu pinus, pengunjung bisa langsung menuju jalan setapak—yang sudah diperkeras dengan paving—dan berjalan masuk ke dalam hutan di kawasan Alishan Forest Recreation Area. Pohon-pohon pinus dan cemara terlihat rapat dan rapi berjajar dalam barisan-barisan. Wu mengatakan, pohon-pohon itu seolah-olah ditanam, padahal mereka tumbuh dengan sendirinya. Petugas hanya menyelimuti batang pohon yang tumbuh di dekat jalur yang dilalui pengunjung dengan semacam tikar bambu untuk mencegah tangan-tangan usil menyayat batangnya.
Menurut Wu, pepohonan di Alishan merupakan spesies endemis Taiwan. Beberapa di antaranya adalah Taiwania cryptomerioides, Chamaecyparis formosensis, Abies kawakamii, dan Ulmus uyematsui yang hanya ditemukan di kawasan Alishan.
Di kejauhan sesekali terdengar siulan burung bersahutan. Namun, tak satu pun di antaranya terlihat. Berdasarkan keterangan dari pusat pengunjung, ada sekitar 101 spesies burung yang tercatat di kawasan Alishan. Di antaranya ada 49 subspesies yang hanya ada di Taiwan, seperti burung mikado (Syrmaticus mikado), yuhina formosa (Yuhina brunneiceps), tit punggung hijau (Parus monticolus), dan robin semak berkerah (Tarsiger Johnstoneae). ”Alishan memang dikenal sebagai satu dari 10 tempat terbaik untuk mengamati burung di Taiwan,” ujar Wu.
Setelah beberapa saat, kami melihat kolam alami yang dinamakan Sister Pond. Konon, di kolam itu seorang gadis bunuh diri karena kakaknya jatuh cinta kepada pria yang dicintainya. Si kakak pun akhirnya bunuh diri di kolam yang lain. Cerita yang menyedihkan untuk kolam indah yang dikelilingi cemara dan pohon-pohon bunga. Kedua kolam tersebut, kata Wu, merupakan sumber air untuk pengairan daerah sekitarnya.
Tiga generasi
Pemandangan menakjubkan yang lain adalah banyaknya pohon baru yang tumbuh di atas batang pohon cemara tua yang sudah mati. Tiga batang pohon tumbuh di atas sebuah batang besar dinamakan Three Sisters, sementara empat batang pohon baru di atas sebuah batang pohon mati dinamakan Four Brothers.
Ada pula pohon yang disebut Pohon Tiga Generasi. Akar ketiga pohon bersumber dari satu pokok yang sama. Pohon generasi pertama sudah melintang di atas tanah, berusia 1.500 tahun. Di atasnya tumbuh pohon generasi kedua yang berusia 300 tahun dan kini hanya tersisa pokok pohonnya. Pohon generasi ketiga masih tumbuh menjulang di atasnya, menyesap sari kehidupan dari dua leluhurnya.
Sebagian besar pohon di Alishan National Forest Recreation Area memang sudah berusia ratusan, bahkan ribuan, tahun. Pohon tertua yang tercatat di tempat itu berusia 3.000 tahun, tetapi sudah tumbang.
Pohon tertua yang masih hidup berusia 2.300 tahun dan disebut sebagai pohon keramat atau Siangling Sacred Tree. Jenisnya adalah cemara merah dari spesies Chamaecyparis formosensis dengan ketinggian 45 meter dan diameter 12,3 meter.
Tak terasa, dua jam berlalu sejak kami menginjakkan kaki di tepi hutan cemara Alishan untuk pertama kali. Hari semakin sore dan dingin mulai menggigit. Kabut tipis mulai turun, memunculkan suasana mistis di tengah hutan.
Kami kembali ke Stasiun Forest Railway Alishan menggunakan mobil listrik yang disediakan untuk mengangkut penumpang ke beberapa titik pemberangkatan. Jika belum lelah, Anda bisa berjalan kaki di jalur pejalan kaki yang dibuat dari kayu sepanjang beberapa kilometer menuju stasiun atau lokasi parkir kendaraan.
Paru-paru sudah penuh udara segar dari gunung. Raga dan jiwa pun tak kalah sejuknya. Tembang lawas Katon kembali membahana di kepala.
”... Mentari kini ku perlu hangatmu, menyusup buluh nadi. Membuka hari yang baru untukku, songsong apa terjadi.
(FRANSISCA ROMANA NINIK)


 Alishan,cemara,meniti,hutan,area,chiayi,Taiwan,tersembunyi.
Hutan cemara Alishan,Alishan National Recreation Area,tiga generasi.

                                                                                                                   

Kamis, 03 Maret 2016

TEROPONG | DESA WISATA

Dari Tsou di Lereng Gunung ke Hinoki di Tengah Kota
Pohon Tiga Generasi merupakan salah satu pemandangan menarik di Alishan National Recreation Area, Chiayi, Taiwan.
[sumber : KOMPAS, RABU, 16 DESEMBER 2015| Oleh : FRANSISCA ROMANA NINIK]PEMUDA itu menggengam seikat alang-alang pada kedua tangannya. Diangkatnya alang-alang tersebut tinggi ke udara sambli melantunkan semacam nyanyian tradisional. Di hadapannya berdiri tamu-tamu yang berkunjung ke Yuyupas di Leye, desa wisata suku Tsou di kaki pegunungan Alishan Taiwan, awal desember 2015.
Ritual itu adalah ucapan selamat datang bagi para pengunjung. ”Kami memberi tahu kepada para dewa tentang kedatangan Anda sekalian agar semua selamat selama berkunjung di tempat ini,” tutur Sua, pemandu wisata di desa wisata itu.
Suku Tsou adalah suku asli Taiwan yang mendiami kawasan sekitar Gunung Alishan. Berdasarkan data dari Digital Museum of Taiwan Indigenous Peoples, mereka disebut berasal dari ras Austronesia. Tsou berarti manusia. Nama tersebut diadopsi dari para ilmuwan karena kelompok suku ini sebenarnya tidak memiliki nama sampai saat Jepang berkuasa di Taiwan tahun 1940-an.
Sua menjelaskan, nenek moyang mereka turun dari langit bagaikan benih-benih tanaman yang lalu hidup di atas tanah. ”Nenek moyang kami bisa terus bertahan karena dibantu burung api. Saat air bah melanda tanah ini dan nenek moyang kami tidak bisa menyalakan api, datanglah burung itu membantu kami sehingga kami terus hidup,” tuturnya.
Tinggal di pegunungan, suku Tsou dilimpahi dengan kekayaan tanaman dan hewan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Saat ini, pertanian merupakan penyokong hidup terbesar suku Tsou. Di sekitar Yuyupas, pengunjung bisa melihat hamparan perkebunan teh, di samping tanaman pertanian lain yang menjadi sumber pangan mereka, seperti taro, persik, bambu, dan sayur-mayur.
Kedamaian kehidupan di pegunungan Alishan ini sempat terguncang oleh topan Morakot pada 2009 yang meluluhlantakkan tempat tinggal dan penghidupan suku Tsou. Banyak anggota suku yang kemudian pergi meninggalkan rumah mereka.
Sua menuturkan, untuk membangkitkan kembali kehidupan yang porak poranda akibat topan, muncullah gagasan membangun sebuah taman budaya di jantung kehidupan mereka. Yuyupas, berarti selamat dan sejahtera, kemudian menjadi tujuan wisata terkenal di kawasan Alishan.
Di taman seluas sekitar 2 hektar itu didirikan semacam aula pameran yang menampilkan kisah asal mula, foto-foto kehidupan masa lalu, atribut khas, hingga gambaran kehidupan sehari-hari mereka pada masa kini. Terdapat pula rumah-rumah tradisional, restoran, rumah pohon, dan teater yang akan membuat pengunjung benar-benar melihat dari dekat dan mengalami kehidupan suku Tsou.
Para pemuda dan pemudi Tsou, dalam balutan pakaian tradisional mereka, terlihat sibuk di restoran, menyajikan olahan jamur, bambu, ikan, ayam, udang, dan babi kepada pengunjung. Mereka terbalut pakaian tradisional Tsou. Para pria berbaju merah dengan ikat pinggang hitam; berkerah, bercelana, dan berkasut dari bahan kulit rusa; serta ikat kepala dengan hiasan bulu burung. Sementara para perempuan berbaju merah dengan rompi biru, berkain hitam, dan mengenakan hiasan kepala warna-warni.
Kendati demikian, mereka tdak menjauhi budaya modern. Sua, misalnya, mengenakan celana kain dan kacamata, juga memakai handy-talkie, di samping sepatu sneakers. Perpaduan unik nan harmonis.
Di teater, setiap hari mereka menampilkan pertunjukan tari dan musik tradisional Tsou pada pukul 10.00 dan 14.00. Sayangnya, kami tidak sempat menikmati pertunjukan karena tidak datang pada waktu-waktu tersebut. Di sekeliling taman budaya terdapat rumah-rumah kecil yang difungsikan sebagai tempat penjualan suvenir, berupa aneka kerajinan, pakaian, serta produk makanan dan minuman.
”Anda bisa menyewa pemandu wisata setempat jika ingin lebih dalam mengenal kami. Anda juga bisa menginap di sini, menikmati budaya setempat dan keindahan alamnya,” ujar Sua.
Ratusan tahun
Dari lereng gunung, kami menuju desa wisata lain di tengah kota Chiayi. Desa ini masih ada hubungannya dengan kawasan Alishan, tempat suku Tsou berdiam. Disebut Hinoki Village atau Desa Hinoki karena bangunan-bangunan di ”desa” tersebut seluruhnya dibuat dari kayu hinoki atau cemara Taiwan yang tumbuh di Alishan.
Jeffrey, pemandu tur kami, menuturkan, selama ratusan tahun, bangunan-bangunan tersebut tetap dijaga dengan baik. ”Semula bangunan-bangunan ini adalah asrama para pekerja Hutan Chiayi pada Biro Kehutanan Taiwan semasa pendudukan Jepang. Sekarang tempat ini menjadi ’desa’ kreatif,” katanya.
Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Peimen yang merupakan perhentian dari jalur pengangkutan kayu cemara dan pinus dari Alishan ke pusat kota Chiayi. Berdiri di atas lahan seluas 3,4 hektar, di sinilah dulu keramaian Chiayi berpusat karena kegiatan terkait perkayuan, mulai dari gudang penyimpanan, toko material kayu, hingga pabrik kayu.
Sebanyak 28 bangunan tua yang berkelompok di sekitar Jalan Beimen, Jalan Linsen, Jalan Gonghe, dan Jalan Zhongxiao ini memang terlihat masih kokoh. Warnanya coklat tua dengan model bangunan khas Jepang, seperti pintu dan jendela geser. Kini bangunan tersebut dimanfaatkan untuk aneka kegiatan, terutama yang berhubungan dengan industri kreatif.
Ada museum, kedai makanan, toko suvenir, salon kecantikan, galeri, dan sentra kerajinan. Di teras rumah terlihat beberapa seniman mengerjakan karya dengan tekun. Di salah satu rumah bertulisan Chiayi Kano Story House, Yu Quan tampak sibuk melayani pertanyaan beberapa pengunjung.
Di dalam ruangan rumah itu terdapat semacam galeri yang berisi beragam hal yang berhubungan dengan tim bisbol Kano dari kota Chiayi yang terkenal pada 1931 dan dibuat filmnya tahun 2014. ”Silakan masuk. Maaf, kami memungut tarif masuk 30 dollar Taiwan (sekitar Rp 12.000),” kata Yu, sembari menunjukkan koleksi majalah tahunan Asosiasi Alumni Kano, foto-foto hitam putih skuad tim Kano, dan aneka pernik lain, seperti bola, tongkat pemukul, sarung tangan, dan seragam.
Di rumah lain, para pengunjung tampak melihat-lihat beragam suvenir, seperti gelang, tas, gantungan kunci, sapu tangan, dan aksesori. Di bawah pepohonan, tampak pengunjung duduk sambil menikmati makanan atau pemandangan taman ala Jepang yang lapang dan rapi.
Di tengah kesibukan kota, Desa Hinoki yang asri dan penuh kreativitas ini menjadi semacam oase bagi warga ataupun pengunjung. Tak hanya bisu menjadi saksi sejarah, bangunan-bangunan kayu hinoki tua itu juga kini menggerakkan perekonomian kota. (FRO)
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Des

Alishan,cemara,meniti,hutan,area,chiayi,Taiwan,tersembunyi.
Tsou di lereng gunung,Hinoki di tengah kota,desa wisata,ratusan tahun.