jauh dari sempurna
Here is the ultimate resource for detailed ARCHITECTURAL guides, and tips. Find about ARCHITECTURAL that will match your need
Senin, 08 Agustus 2016
Kamis, 07 Juli 2016
Senin, 06 Juni 2016
Kamis, 05 Mei 2016
Senin, 04 April 2016
TEROPONG | WISATA ALAM
Meniti Hutan Cemara
Alishan
“Kabut dingin merendah,
perlahan datang menyapa, semak-semak tanah basah/
Langkah kaki seiring
pandangan hijau terhampar di tepi hutan cemara…”
Lirik tembang lawasn milik
Katon Bagaskara ini serasa pas dilantunkan saat kaki mulai menginjak kawasan
Alishan National Scenic Area di Chiayai, Taiwan, Awal Desember lalu, suhu udara
sejuk, sekitar 13 derajat celsius. Jalan kaki menyusuri jalan di bawah
kerimbunan hutan cemara dan pinus pun tak terasa melelahkan.
Pohon Tiga Generasi merupakan salah satu pemandangan menarik di Alishan National
Recreation Area, Chiayi, Taiwan.
[sumber : KOMPAS, RABU, 16 DESEMBER 2015|
Oleh : FRANSISCA ROMANA NINIK]ALISHAN
atau Gunung Ali terdiri atas deretan pegunungan dengan ketinggian hingga 2.500
meter di atas permukaan laut dengan luas total 415 kilometer persegi. Kawasan
ini merupakan resor yang terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan. Alishan
National Scenic Area Visitor Center mencatat sekitar 3 juta wisatawan
mengunjungi Alishan setiap tahun. Mereka menikmati kesejukan dan ketenangan
hutan, matahari terbit atau terbenam, lautan awan, serta pemandangan indah
lainnya.
Begitu cantiknya alam Alishan sampai-sampai dia digambarkan melalui lagu
rakyat yang populer berjudul ”Alishan de gu niang” atau ”Gadis Alishan”. Dalam
perjalanan menuju lokasi, Jeffrey, pemandu kami, menyanyikan dua bait lagunya.
”Gunung tinggi yang hijau, air sungai yang biru. Gadis Gunung Ali secantik air,
pemuda Gunung Ali sekuat gunung,” ujarnya.
Setelah sekitar dua jam menempuh jalan berkelok-kelok dan terus menanjak
dari kota Chiayi, sampailah kami di Stasiun Forest Railway Alishan. Dari
stasiun, turis bisa naik kereta yang beroperasi di jalur yang dibangun sejak
zaman penjajahan Jepang tahun 1940-an. Kami beruntung bisa naik kereta yang
seluruhnya terbuat dari kayu pinus yang hanya dioperasikan setiap Rabu
tersebut.
Dengan ongkos 50 dollar Taiwan (sekitar Rp 21.000) sekali jalan, pengunjung
bisa menikmati perjalanan selama enam menit menuju stasiun terdekat dengan
jalur pendakian (hiking trail), Stasiun
Zhaoping. Kereta berjalan lambat. Di dalam kereta masih tercium segar kayu
pinus, sementara di kanan-kiri menjulang pohon cemara dan pinus setinggi
puluhan meter.
Tersembunyi
Perjalanan singkat itu membawa gambaran masa lalu saat pohon-pohon cemara
dan pinus tersebut ditebangi lalu diangkut ke kota Chiayi menggunakan kereta
sebelum dikirimkan ke Jepang. ”Kami takjub karena Jepang bisa menemukan tempat
ini, padahal selama itu tersembunyi. Mereka menyebut kayu-kayu ini hinoki
dan membawanya ke Jepang. Penebangan di hutan ini sudah dihentikan sejak tahun
1970-an dan kawasan ini dilindungi pemerintah, dijadikan taman nasional,” tutur
Wu Chia-hsin, petugas dari Alishan National Scenic Area Visitor Center.
Turun dari kereta kayu pinus, pengunjung bisa langsung menuju jalan
setapak—yang sudah diperkeras dengan paving—dan
berjalan masuk ke dalam hutan di kawasan Alishan Forest Recreation Area.
Pohon-pohon pinus dan cemara terlihat rapat dan rapi berjajar dalam
barisan-barisan. Wu mengatakan, pohon-pohon itu seolah-olah ditanam, padahal
mereka tumbuh dengan sendirinya. Petugas hanya menyelimuti batang pohon yang
tumbuh di dekat jalur yang dilalui pengunjung dengan semacam tikar bambu untuk
mencegah tangan-tangan usil menyayat batangnya.
Menurut Wu, pepohonan di Alishan merupakan spesies endemis Taiwan. Beberapa
di antaranya adalah Taiwania cryptomerioides, Chamaecyparis
formosensis, Abies kawakamii, dan Ulmus
uyematsui yang hanya ditemukan di kawasan Alishan.
Di kejauhan sesekali terdengar siulan burung bersahutan. Namun, tak satu pun
di antaranya terlihat. Berdasarkan keterangan dari pusat pengunjung, ada
sekitar 101 spesies burung yang tercatat di kawasan Alishan. Di antaranya ada
49 subspesies yang hanya ada di Taiwan, seperti burung mikado (Syrmaticus
mikado), yuhina formosa (Yuhina brunneiceps),
tit punggung hijau (Parus monticolus), dan robin
semak berkerah (Tarsiger Johnstoneae).
”Alishan memang dikenal sebagai satu dari 10 tempat terbaik untuk mengamati
burung di Taiwan,” ujar Wu.
Setelah beberapa saat, kami melihat kolam alami yang dinamakan Sister
Pond. Konon, di kolam itu seorang gadis bunuh diri karena kakaknya
jatuh cinta kepada pria yang dicintainya. Si kakak pun akhirnya bunuh diri di
kolam yang lain. Cerita yang menyedihkan untuk kolam indah yang dikelilingi
cemara dan pohon-pohon bunga. Kedua kolam tersebut, kata Wu, merupakan sumber
air untuk pengairan daerah sekitarnya.
Tiga generasi
Pemandangan menakjubkan yang lain adalah banyaknya pohon baru yang tumbuh di
atas batang pohon cemara tua yang sudah mati. Tiga batang pohon tumbuh di atas
sebuah batang besar dinamakan Three Sisters, sementara
empat batang pohon baru di atas sebuah batang pohon mati dinamakan Four
Brothers.
Ada pula pohon yang disebut Pohon Tiga Generasi. Akar ketiga pohon bersumber
dari satu pokok yang sama. Pohon generasi pertama sudah melintang di atas
tanah, berusia 1.500 tahun. Di atasnya tumbuh pohon generasi kedua yang berusia
300 tahun dan kini hanya tersisa pokok pohonnya. Pohon generasi ketiga masih
tumbuh menjulang di atasnya, menyesap sari kehidupan dari dua leluhurnya.
Sebagian besar pohon di Alishan National Forest Recreation Area memang sudah
berusia ratusan, bahkan ribuan, tahun. Pohon tertua yang tercatat di tempat itu
berusia 3.000 tahun, tetapi sudah tumbang.
Pohon tertua yang masih hidup berusia 2.300 tahun dan disebut sebagai pohon
keramat atau Siangling Sacred Tree.
Jenisnya adalah cemara merah dari spesies Chamaecyparis
formosensis dengan ketinggian 45 meter dan diameter 12,3 meter.
Tak terasa, dua jam berlalu sejak kami menginjakkan kaki di tepi hutan
cemara Alishan untuk pertama kali. Hari semakin sore dan dingin mulai
menggigit. Kabut tipis mulai turun, memunculkan suasana mistis di tengah hutan.
Kami kembali ke Stasiun Forest Railway Alishan menggunakan mobil listrik
yang disediakan untuk mengangkut penumpang ke beberapa titik pemberangkatan.
Jika belum lelah, Anda bisa berjalan kaki di jalur pejalan kaki yang dibuat
dari kayu sepanjang beberapa kilometer menuju stasiun atau lokasi parkir
kendaraan.
Paru-paru sudah penuh udara segar dari gunung. Raga dan jiwa pun tak kalah
sejuknya. Tembang lawas Katon kembali membahana di kepala.
”... Mentari kini ku perlu hangatmu, menyusup buluh nadi. Membuka
hari yang baru untukku, songsong apa terjadi.”
(FRANSISCA ROMANA NINIK)
Alishan,cemara,meniti,hutan,area,chiayi,Taiwan,tersembunyi.Hutan cemara Alishan,Alishan National Recreation Area,tiga generasi.
Kamis, 03 Maret 2016
TEROPONG | DESA WISATA
Dari Tsou di Lereng
Gunung ke Hinoki di Tengah Kota
Pohon Tiga Generasi merupakan salah satu pemandangan menarik di Alishan National
Recreation Area, Chiayi, Taiwan.
[sumber : KOMPAS, RABU, 16 DESEMBER 2015| Oleh : FRANSISCA ROMANA
NINIK]PEMUDA itu menggengam seikat
alang-alang pada kedua tangannya. Diangkatnya alang-alang tersebut tinggi ke
udara sambli melantunkan semacam nyanyian tradisional. Di hadapannya berdiri
tamu-tamu yang berkunjung ke Yuyupas di Leye, desa wisata suku Tsou di kaki
pegunungan Alishan Taiwan, awal desember 2015.
Ritual itu adalah ucapan selamat datang bagi para pengunjung. ”Kami memberi
tahu kepada para dewa tentang kedatangan Anda sekalian agar semua selamat
selama berkunjung di tempat ini,” tutur Sua, pemandu wisata di desa wisata itu.
Suku Tsou adalah suku asli Taiwan yang mendiami kawasan sekitar Gunung
Alishan. Berdasarkan data dari Digital Museum of Taiwan Indigenous Peoples,
mereka disebut berasal dari ras Austronesia. Tsou berarti manusia. Nama
tersebut diadopsi dari para ilmuwan karena kelompok suku ini sebenarnya tidak
memiliki nama sampai saat Jepang berkuasa di Taiwan tahun 1940-an.
Sua menjelaskan, nenek moyang mereka turun dari langit bagaikan benih-benih
tanaman yang lalu hidup di atas tanah. ”Nenek moyang kami bisa terus bertahan
karena dibantu burung api. Saat air bah melanda tanah ini dan nenek moyang kami
tidak bisa menyalakan api, datanglah burung itu membantu kami sehingga kami
terus hidup,” tuturnya.
Tinggal di pegunungan, suku Tsou dilimpahi dengan kekayaan tanaman dan hewan
yang menjadi sumber penghidupan mereka. Saat ini, pertanian merupakan penyokong
hidup terbesar suku Tsou. Di sekitar Yuyupas, pengunjung bisa melihat hamparan
perkebunan teh, di samping tanaman pertanian lain yang menjadi sumber pangan
mereka, seperti taro, persik, bambu, dan sayur-mayur.
Kedamaian kehidupan di pegunungan Alishan ini sempat terguncang oleh topan
Morakot pada 2009 yang meluluhlantakkan tempat tinggal dan penghidupan suku
Tsou. Banyak anggota suku yang kemudian pergi meninggalkan rumah mereka.
Sua menuturkan, untuk membangkitkan kembali kehidupan yang porak poranda
akibat topan, muncullah gagasan membangun sebuah taman budaya di jantung kehidupan
mereka. Yuyupas, berarti selamat dan sejahtera, kemudian menjadi tujuan wisata
terkenal di kawasan Alishan.
Di taman seluas sekitar 2 hektar itu didirikan semacam aula pameran yang
menampilkan kisah asal mula, foto-foto kehidupan masa lalu, atribut khas,
hingga gambaran kehidupan sehari-hari mereka pada masa kini. Terdapat pula
rumah-rumah tradisional, restoran, rumah pohon, dan teater yang akan membuat
pengunjung benar-benar melihat dari dekat dan mengalami kehidupan suku Tsou.
Para pemuda dan pemudi Tsou, dalam balutan pakaian tradisional mereka,
terlihat sibuk di restoran, menyajikan olahan jamur, bambu, ikan, ayam, udang,
dan babi kepada pengunjung. Mereka terbalut pakaian tradisional Tsou. Para pria
berbaju merah dengan ikat pinggang hitam; berkerah, bercelana, dan berkasut
dari bahan kulit rusa; serta ikat kepala dengan hiasan bulu burung. Sementara
para perempuan berbaju merah dengan rompi biru, berkain hitam, dan mengenakan
hiasan kepala warna-warni.
Kendati demikian, mereka tdak menjauhi budaya modern. Sua, misalnya,
mengenakan celana kain dan kacamata, juga memakai handy-talkie,
di samping sepatu sneakers. Perpaduan unik nan
harmonis.
Di teater, setiap hari mereka menampilkan pertunjukan tari dan musik
tradisional Tsou pada pukul 10.00 dan 14.00. Sayangnya, kami tidak sempat
menikmati pertunjukan karena tidak datang pada waktu-waktu tersebut. Di
sekeliling taman budaya terdapat rumah-rumah kecil yang difungsikan sebagai
tempat penjualan suvenir, berupa aneka kerajinan, pakaian, serta produk makanan
dan minuman.
”Anda bisa menyewa pemandu wisata setempat jika ingin lebih dalam mengenal
kami. Anda juga bisa menginap di sini, menikmati budaya setempat dan keindahan
alamnya,” ujar Sua.
Ratusan tahun
Dari lereng gunung, kami menuju desa wisata lain di tengah kota Chiayi. Desa
ini masih ada hubungannya dengan kawasan Alishan, tempat suku Tsou berdiam.
Disebut Hinoki Village atau Desa Hinoki karena
bangunan-bangunan di ”desa” tersebut seluruhnya dibuat dari kayu hinoki
atau cemara Taiwan yang tumbuh di Alishan.
Jeffrey, pemandu tur kami, menuturkan, selama ratusan tahun,
bangunan-bangunan tersebut tetap dijaga dengan baik. ”Semula bangunan-bangunan
ini adalah asrama para pekerja Hutan Chiayi pada Biro Kehutanan Taiwan semasa
pendudukan Jepang. Sekarang tempat ini menjadi ’desa’ kreatif,” katanya.
Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Peimen yang merupakan perhentian dari
jalur pengangkutan kayu cemara dan pinus dari Alishan ke pusat kota Chiayi.
Berdiri di atas lahan seluas 3,4 hektar, di sinilah dulu keramaian Chiayi
berpusat karena kegiatan terkait perkayuan, mulai dari gudang penyimpanan, toko
material kayu, hingga pabrik kayu.
Sebanyak 28 bangunan tua yang berkelompok di sekitar Jalan Beimen, Jalan
Linsen, Jalan Gonghe, dan Jalan Zhongxiao ini memang terlihat masih kokoh.
Warnanya coklat tua dengan model bangunan khas Jepang, seperti pintu dan
jendela geser. Kini bangunan tersebut dimanfaatkan untuk aneka kegiatan,
terutama yang berhubungan dengan industri kreatif.
Ada museum, kedai makanan, toko suvenir, salon kecantikan, galeri, dan
sentra kerajinan. Di teras rumah terlihat beberapa seniman mengerjakan karya
dengan tekun. Di salah satu rumah bertulisan Chiayi Kano Story House, Yu Quan
tampak sibuk melayani pertanyaan beberapa pengunjung.
Di dalam ruangan rumah itu terdapat semacam galeri yang berisi beragam hal
yang berhubungan dengan tim bisbol Kano dari kota Chiayi yang terkenal pada
1931 dan dibuat filmnya tahun 2014. ”Silakan masuk. Maaf, kami memungut tarif
masuk 30 dollar Taiwan (sekitar Rp 12.000),” kata Yu, sembari menunjukkan
koleksi majalah tahunan Asosiasi Alumni Kano, foto-foto hitam putih skuad tim
Kano, dan aneka pernik lain, seperti bola, tongkat pemukul, sarung tangan, dan
seragam.
Di rumah lain, para pengunjung tampak melihat-lihat beragam suvenir, seperti
gelang, tas, gantungan kunci, sapu tangan, dan aksesori. Di bawah pepohonan,
tampak pengunjung duduk sambil menikmati makanan atau pemandangan taman ala
Jepang yang lapang dan rapi.
Di tengah kesibukan kota, Desa Hinoki yang asri dan penuh kreativitas ini
menjadi semacam oase bagi warga ataupun pengunjung. Tak hanya bisu menjadi
saksi sejarah, bangunan-bangunan kayu hinoki tua
itu juga kini menggerakkan perekonomian kota. (FRO)
Versi cetak
artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Des
Alishan,cemara,meniti,hutan,area,chiayi,Taiwan,tersembunyi.Tsou di lereng gunung,Hinoki di tengah kota,desa wisata,ratusan tahun.
Senin, 15 Februari 2016
Langganan:
Postingan (Atom)





