Jumat, 11 November 2016

MENYELAMATKAN RUMAH PUSAKA

OLEH : MYRNA RATNA |KOMPAS, MINGGU, 29 NOVEMBER 2015 | Disalin oleh AFs.com – KEANTIKAN bangunan ini sudah terlihat dari sejak kaki melangkah di perkarangan yang diteduhi kerindangan pohon kepel, belimbing, dan mangga. Di pintu masuk pendopo terukir tulisan PD 1857, yang merupakan singkatan Proyo Drono, sebuah keluarga di Kotagede yang pada zamannya dikenal kaya-raya. “Kami membelinya dalam keadaan hancur, dari generasi keempat keluarga ini,” kata pemilik rumah, Nasir Tamara (64) dan Ita Budhi (56).

Keantikan bangunan ini sudah terlihat dari sejak kaki melangkah di pekarangan yang diteduhi kerindangan pohon kepel, belimbing, dan mangga. Di pintu masuk pendopo terukir tulisan PD 1857, yang merupakan singkatan dari Proyo Drono, sebuah keluarga di Kotagede yang pada zamannya dikenal kaya-raya. "Kami membelinya dalam keadaan hancur, dari generasi keempat keluarga ini," kata pemilik rumah, Nasir Tamara (64) dan Ita Budhi (56).
Keputusan untuk membeli rumah ini tidak serta-merta. Nasir yang saat itu masih menjadi senior research fellow di ISEAS, Singapura, diminta untuk mengajar di Universitas Gadjah Mada. "Saya akhirnya merasa betah di Yogya dan malas kembali ke Singapura. Yogya ini kota yang multirasial, multiagama, multibudaya, pokoknya membuat betah," kata Nasir.

Ketika mencari rumah tinggal, Nasir dibantu Laretna Adhisakti, akrab dipanggil Sita, sosok yang peduli pada pelestarian pusaka Indonesia. "Saya ingat Sita mengatakan, 'Mas Nasir kalau mau cari rumah, saya akan bantu. Tapi, Mas Nasir harus beli rumah pusaka untuk menyelamatkan warisan budaya.' Sita ini yang nyetirin saya untuk melihat-lihat rumah-rumah," kenang Nasir.
Ketika melihat Ndalem Natan di Kotagede yang bangunannya porak poranda, bahkan sebagian rata dengan tanah, Nasir langsung jatuh hati. "Prosesnya lancar, padahal rumah ini bertahun-tahun dicoba dijual, tetapi tidak berhasil. Keluarga besar merasa cocok dengan kami," kata Nasir.
Renovasi berlangsung lama, hampir mendekati empat tahun. Baik Nasir maupun Ita sangat hati-hati dalam proses rekonstruksi bangunan itu. Nasir bahkan melakukan riset sampai ke Belanda, Spanyol, dan Perancis untuk mengetahui latar belakang sejarah semua elemen yang ada di bangunan itu. Pemilik rumah ini juga tidak menggunakan kontraktor besar, tetapi mencari para ahli kayu dari Jepara, Kudus, dan Demak. Para pekerja ini hampir selama empat tahun tinggal di situ.

"Ini cara merenovasi dari kacamata arkeologi. Ini model textbook untuk merespons pusaka budaya. Tak ada benda yang terbuang di sini, semua kepingan keramik, tegel, kayu, dan batu kami pakai kembali. Kami juga pertimbangkan primbon, misalnya harus ada unsur tanah, api, angin, dan air. Sewaktu kami beli tidak ada kolam, sekarang kami pakai kolam," kata Nasir.
Rumah Jawa
Pembagian ruangan di rumah ini sesuai dengan rumah Jawa, ada pendopo untuk menerima tamu, ada pringgitan, ada bagian dalam dan ndalem yang memiliki sentong, bagian paling sentral dari sebuah rumah, dan di kiri-kanannya ada gandok untuk menyimpan senjata dan harta.
Bagian yang pertama kali direnovasi adalah pendopo. Saat itu hanya tiang-tiang yang masih berdiri meskipun miring. Langit-langit yang terbuat dari kayu beserta kaca-kaca patri indah yang menghiasi bagian atas pendopo berasal dari Eropa. Demikian juga dengan terali-terali besi yang menghiasi jendela, dan keramik porselen yang menghiasi dinding, semuanya bergaya Eropa. "Terali ini mirip dengan yang ada di Metro Montmartre di Paris yang bergaya art nouveau. Motif yang berada di atas jendela itu khas revolusi industri yang percaya pada kekuatan mesin," kata Nasir yang pernah cukup lama bermukim di Perancis.

Kini, proses renovasi yang cukup lama itu sudah mendekati akhir. Tinggal beberapa tembok yang butuh dipoles. Nasir dan Ita sudah bisa menikmati jerih payah yang menguras tenaga dan biaya tersebut. "Energi dan biaya yang kami keluarkan sepadan dengan yang dihasilkan. Kita berhasil mengembalikan hasil budaya adiluhung Jawa seperti apa adanya," kata Nasir.
Tamu dari dalam dan luar negeri berdatangan, dari sekadar mengagumi sampai menimba informasi soal penyelamatan pusaka budaya. Sore itu, Nasir menerima tamu Country Director Bank Dunia Rodrigo Chaves dan Ekonom Senior Bank Dunia Ndiame Diop. "Bank Dunia merupakan salah satu institusi yang membantu proses rekonstruksi pasca bencana di Yogyakarta," ujar Nasir.
Nasir dan Ita bercita-cita Ndalem Natan bisa menjadi tempat kegiatan intelektual, budaya, dan lingkungan hidup. Atau semacam "rumah budaya". Secara rutin setiap bulan peluncuran buku dilakukan di sini. "Kami juga berpartisipasi dalam Art Jog. Karya-karya dari beberapa seniman Yogya, seperti Ristiyanto CW dan Muhammad Yusuf, dipamerkan di galeri ini, Natan Art Space," kata Nasir.
Untuk membiayai pemeliharaan bangunan yang memiliki 12 kamar itu, sebagian kamar disewakan. Setiap kamar memiliki nama dan "tema" sendiri, yang perabotan dan interiornya ditata dengan teliti dan penuh cita rasa. "Tamu bisa memiliki pengalaman tinggal di Jawa dengan atmosfer seperti di Malioboro puluhan tahun lalu," tambah Nasir.
Ruang pribadi

Di bangunan seluas 1.300 meter persegi yang berada di lahan seluas 2.000 meter itu, Nasir dan Ita mendiami ruangan pribadi di gandok kiwo (kiri), yang mereka namai sebagai "Kamar Mataram". Bangunan yang didominasi kayu jati ini bersisian dengan ruangan yang difungsikan sebagai kafe dan galeri. "Kami kan hanya berdua, ruangan ini saja sudah cukup besar," kata Ita.
Tentu saja, ruangan pribadi ini penuh dengan barang antik. Di antaranya tempat tidur kayu berkanopi asal Tiongkok yang usianya sudah lebih dari seratus tahun, juga radio tabung antik (console radio) yang permukaannya digrafir dengan indah. "Radionya masih berfungsi lho," kata Nasir.
Di atas meja kerjanya, selain terdapat tumpukan buku lawas, juga terdapat bermacam benda lawas, seperti gramofon dan mesin ketik tua. Tak hanya itu, Nasir pun membuka sebuah kotak, yang menyimpan ratusan piringan hitam lawas yang masih mulus kondisinya. "Saya beli dari lelang," katanya.
Nasir dan Ita memang memiliki hobi dan passion yang sama soal barang antik. Nasir menyukai keramik dan litografi, sementara Ita menyukai perabotan antik. Ndalem Natan menjadi wujud ekspresi mereka berdua. "Soal penataan ruangan saya serahkan kepada Ita," kata Nasir

Sore hari adalah waktu yang paling disukai pasangan ini, ketika semilir angin dari berbagai penjuru menyelusup ke pendopo. Sambil menyeruput kopi dengan ditemani kudapan tradisional, keduanya menanti pergantian dari sore ke malam hari. Langit di Yogyakarta sangat indah. Biru pekat dengan semburat matahari berwarna jingga. Warna-warni ini perlahan memudar. Langit pun gulita.



Di Jalan Mondorakan, Kotagede, Yogyakarta, rumah antic ini menarik perhatian karena keindahannya. Perpaduan antara gaya Jawa dan Eropa. Setelah hancur oleh gempa tahun 2006, Ndalem Natan kini berdiri kembali. Lebih indah daripada sebelumnya.