Sabtu, 28 Februari 2015

Bawa Arus Baru dalam Dunia Desain Interior

By Kevin
Bagi Raymond Prasetya (26), melihat ragam desain yang menarik-kebanyakan justru yang simpel-ibarat memanen inspirasi. Di dalam dapur kepalanya, ia akan mengolah inspirasi tersebut, mereka-reka bentuk, dan melahirkan desainnya sendiri yang orisinal.
RAYMOND merupakan penggagas dan pemilik Nagarey, toko online yang menjual furniture, perlengkapan sekaligus dekorasi rumah dan pakaianbuatan tangan (handmade) berbahan natural. Display barang-barang yang dijualnya dapat dilihat via situs www.nagarey.com. Nagarey juga punya akun Instagram yang memperlihatkan bagaimana produk-produknya, khususnya furniture dan dekorasi rumah, diaplikasikan di dalam beragam ruangan. Menciptakan atmosfer hangat yang membuat nyaman sekaligus menjadikan ruang tampak bergaya.
Nama Nagarey sendiri diadaptasi dari bahasa Jepang nagare yang artinya arus. “Kami ingin membawa arus baru ke dalam desain interior rumah yang ada di Indonesia. Kami mencoba memberikan barang berkualitas ekspor dengan harga terjangkau,” ujar Raymond, Selasa (14/10).
Dalam beberapa tahun terakhir, Nagarey bekerja bersama sejumlah desainer dan pengusaha dari Skandinavia. Produk Skandinavia banyak menggunakan rotan, warna yang natural, dan finishing yang terkesan rustic. Gaya desain Nagarey pada akhirnay berciri rustic dengan tampilan natural.
Menurut Raymond, potensi pasar terbesarnya adalah anak-anak muda. Kini, banyak generasi yang peka desain. “Selama ini, saya juga baru menjual online, maka pasar anak muda pas sekali. Banyak anak muda atau orang yang baru menikah dan akan mulai mengisi rumahnya dengan perabotan. Inginnya, dengna budget terbatas, mereka bisa punya rumah yang keren,” ujar Raymond.
Nagarey punya komitment tinggi untuk menjaga kualitas produknya. Produk-produk yang dihasilkan Nagarey selalu berbasis desain dengan memperhitungkan lima aspke utama, yaitu fungsionalitas, estetika, ergonomis, ketahanan (durability) dan memperlihatkan karakter masing-masing material.
Lokal dan natural
Ada dua kunci utama bahan yang digunakan Nagarey, berasal dari Indonesia dan alami. Barang-barang yang diproduksinya selalu menampakkan terkstur asli material yang digunakan, seperti kayu suar, ranting jati, rotna, daun pandan, enceng gondok, pelepah pisang, bulu kambing, jute, atau kulit kerang. Asalnya pun dari beragam daerah di Indonesia, misalnya rotan dari Sulawesi dan jute dari Jawa Timur. Pengalamannya tinggal di Jepang justru memacu Raymond untuk bangga mengeksplorasi potensi material lokal.
“Saya kuliah di Jepang dan karena lama tinggal di Jepang, rasa estetika saya muncul sendiri. Ada beragam tipografi desain yang saya suka. Namun, pada akhirnya, saya ingin memanfaatkan apa yang Indonesia punya dan apa yang bisa kita lakukan dengan itu. jadilah saya pada waktu itu memutuskan bergerak di bidang furniture dan kerajinan tangan. Dari Jepang itu pula, saya bisa mengharga ibarang dengan tekstur seasli mungkin dan warna yang natural,” ujar Raymond.
Kergaman material di Indonesia sangat kaya. Sayangnya, kadang bahan tersebut dianggap kurang bernilai. Padahal, jika diolah dengna baik, bahan tersebut akan menghasilkan sesuatu yang indah dan bernilai tinggi. “Di banyak negara lain, produk buatan tangan dengan material alami justru sangat dihargai,” tutur Raymond. Dari Indonesia, produk-produk Nagarey pun bertemu dengan peminat-peminatnya di beberapa negara Asia dan Eropa.
Nagarey akan terus mengoptimalkan potensi material asli Indonesia untuk menjadi produk yang berkelas. Apa rencana terdekatnya? “Saya ingin memiliki toko offline supaya orang bisa melihat langsung produk Nagarey dan mendapatkan inspirasi bagaimana memanfaatkannya di dalam ruangan,” pungkas Raymond. [NOV]

Sabtu, 21 Februari 2015

Art Deco Projection Room

By Kevin

Kuat nan kokoh, tapi juga memberikan kesan elegan. Art  Deco adalah nama gayanya. Gaya ini populer pada 1920 hingga 1939 yang banyak digunakan pada desain arsitektur, desain industry, desain interior, lukisan, seni grafis, dan film. Nama art deco berasal dari pameran yang berjudul Paris exposition des Art Decoratifs et Industrie pada 1925 di Perancis.

ART DECO, dalam pengertian tertentu, yakni gabunga ndari berbagai gaya dan gerakan pada awal abad ke-20, termasuk konstruksionisme, kubisme, modernism, Bauhaus, art nouveau, da nfuturisme. Dengan gabungan keenam perspektif itu, art deco dianggap menjadi sebuah gaya yang memiliki konsep lebih modern di kala itu.

Pada desain, art deco banyak menggunakan gradasi warna yang halus serta warna yang mengesankan dengan efek kilauan atau lengkungan logam. Ornament yang digunakan lebih beraturan dan banyak menggunakan garis-garis lurus atau persegi (rectilinear). Dengan demikian, ada baiknya bangunan rumah atau kantor anda sudah bergaya art deco agar tidak kaku, padu padankan tampilan interior dan eksteriornya. Seperti yang dilakukan penyanyi ternama dunia, Barbara Streisand. Di dalam rumah yang berasitektur seprti rumah-rumah peternakan, Streisand mengisnya dengan beragam interior dan eksterior yang ditata secara medetail. Sala hatu yang unik adalah gaya art deco. Dari tampak luar, tempat tinggal Streisand ini kuat dengna konsep desa dan peternakan. Namun, dengan cara yang cantik, Streisand dapat menyatukannya dengan gaya art deco.

Ruang tamu ia buat menjadi seubah projection room yang seolah berfungsi sebagai mesin waktu untuk kembali ke era 1920-an dan 1930-an. Melansir rumahuni.com, Streisand mengisi ruang tamunya dengan mebel bergaya art deco yang dipadupadankan dengan berbagai macam koleksi barang antic miliknya. Sofa dengan lengkungan-lengkungan  khas gaya art deco dan penggunaan meja berkonsep kubisme, ditambah rak-rak kecil di belakangnya, serta beberapa pernak-pernik yang memiliki efek kilauan. Streisand amat mengagumi arsitek seperti Frank Llyod Wright*). Dirinya juga amat menaruh perhatian pada warna dan ia amat menyukai warna abu-abu serta burgundy. Kedua warna inilah yang dipakai untuk eksterior dan interior rumahnya. Tak hanya itu ia amat memperhatikan koordinasi warna dalam menata interiornya.

Selain itu, Streisand memiliki sebuah ruangan yang disebut Antique Shop yang berisi koleksi benda-benda antic miliknya. Ruangan tersebut terinspirasi dari Hector Guimard (1867-1942)., seorang arsitek era art nouveau yang terkenal dengan karyanya berupa pintu kaca indah. Karya Guimard ini hingga sekarang masih dapat dilihat di Stasiun Abbesses, Paris, Perancis.

*) Frank Lloyd Wright (1867-1959) adalah seorang arsitek terkenal dari awal tahun 1900-an. Rumahnya terkenal dengan julukan “Robie House”, yang tata ruangnya seperti jaringan jalan yang ruwet dan jendela kaca berpola geometris.